Dunia Mulai Krisis BBM, Indonesia Tetap Tenang: Bahlil Pastikan Stok Aman

Reporter

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

26 - Mar - 2026, 07:03

Ilustrasi isi BBM. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Sejumlah negara di Asia hingga kawasan lain mulai merasakan dampak krisis bahan bakar minyak (BBM). Negara seperti Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, hingga Australia dilaporkan mengalami tekanan pasokan energi.

Namun di tengah kondisi tersebut, Indonesia justru berada dalam situasi yang relatif stabil. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memastikan bahwa stok BBM, khususnya solar, dalam kondisi aman.

Baca Juga : Sempat Ada Laporan Anonim, Aduan Resmi THR di Kota Malang Dipastikan Nihil

“Kami harus meyakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insyaallah tidak lagi melakukan impor, jadi clear (aman),” ujar Bahlil saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Jawa Tengah, Kamis, yang dipantau secara daring dari Kementerian ESDM di Jakarta.

Bahlil menjelaskan, sejak awal 2026 pemerintah telah menghentikan impor BBM jenis solar. Langkah ini menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak global.

Kebijakan tersebut didukung oleh beroperasinya proyek besar Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan milik PT Pertamina (Persero).

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah meresmikan peningkatan kapasitas kilang tersebut hingga mencapai 360 ribu barel per hari, menjadikannya yang terbesar di Indonesia.

Seiring peningkatan kapasitas ini, pemerintah tidak lagi mengeluarkan izin impor solar. Bahkan, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta yang sebelumnya mengandalkan impor kini diwajibkan mengambil pasokan dari Pertamina.

Meski solar sudah mandiri, untuk BBM jenis bensin Indonesia masih mengandalkan impor sekitar 50 persen dari total kebutuhan. Sisanya dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Untuk mengamankan pasokan, pemerintah kini mulai mencari alternatif negara pemasok minyak mentah. Beberapa negara yang dijajaki antara lain Angola, Brasil, Amerika Serikat, hingga Rusia.

Sementara itu, ketergantungan impor juga masih tinggi pada LPG, yang mencapai sekitar 70 persen dari kebutuhan nasional.

“Kemudian, LPG kita juga masih impor kurang lebih sekitar 70 persen dari total kebutuhan Indonesia,” kata Bahlil.

Baca Juga : Pemkot Surabaya Kendalikan Arus Pendatang, Lurah dan Camat Diminta Teliti

Meski masih ada ketergantungan impor di beberapa sektor, pemerintah memastikan kondisi energi nasional tetap terkendali. Bahlil pun mengimbau masyarakat untuk tidak panik.

“Nggak usah ada rasa panic buying, nggak perlu ada. Pakailah dengan secukupnya,” tegasnya.

Krisis BBM global saat ini tidak lepas dari meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Ketegangan meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.

Tak hanya itu, Teheran juga menguasai Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi titik distribusi utama minyak dunia. Kondisi ini membuat pasokan energi global terganggu, terutama bagi negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada jalur tersebut.

Meski situasi global memanas, pemerintah Indonesia memastikan kondisi dalam negeri tetap aman dan terkendali.