Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Di Balik Patung Buto Stasiun Kota Baru, Tersimpan Kisah Sunyi Perlawanan Rakyat Malang

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Nurlayla Ratri

19 - Mar - 2026, 13:29

Placeholder
Patung Buto yang ada di depan Stasiun Kota Baru, Kota Malang (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di tengah riuh lalu lalang penumpang dan deru kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti, berdiri sebuah penanda zaman di depan Stasiun Kota Baru Malang. Patung Buto, yang juga dikenal sebagai Monumen Juang 45 Malang, seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Kota Malang.

Bukan sekadar hiasan kota, monumen ini menyimpan narasi tentang perlawanan. Tentang keberanian rakyat yang tak ingin tunduk pada penjajahan, tentang semangat yang tak padam meski zaman terus berganti.

Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku

Dosen sejarah sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, menyebut monumen tersebut diperkirakan berdiri sejak sekitar tahun 1970-an. Sebuah penanda yang sengaja dihadirkan untuk mengenang momen kemerdekaan Indonesia, khususnya dari penjajahan Jepang.

“Berdiri kemungkinan tahun 75-an, itu Monumen Juang 45 untuk peringatan kemerdekaan, terutama dari Jepang,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).

Lokasi monumen yang berada di jantung kedatangan Kota Malang bukanlah kebetulan. Sejak masa kolonial, kawasan ini menjadi gerbang utama, tempat orang-orang datang dan pergi, membawa harapan, ketakutan, hingga cerita baru.

“Dari masa kolonial itu memang poros kedatangan orang ke Malang. Bisa jadi itu alasan kalau monumen itu ditaruh di sana,” tambahnya.

Secara visual, Patung Buto menampilkan adegan yang tak lekang oleh waktu. Sosok rakyat yang melawan figur raksasa, seakan membekukan satu momen perlawanan dalam wujud yang abadi. 

Raksasa itu, menurut Rakai Hino, bukan sekadar figur imajinatif, melainkan simbol dari penjajah yang digambarkan bengis dalam banyak kisah lama.

“Raksasa itu simbol penjajah, bisa Belanda atau Jepang. Dalam banyak naskah kuno, sosok raksasa atau buto memang identik dengan karakter negatif,” terangnya.

Meski begitu, kisah di balik wajah-wajah manusia dalam monumen ini masih menyisakan ruang tanya. Ada yang mengaitkannya dengan tokoh lokal, namun sejarah belum sepenuhnya memberi jawaban pasti.

Baca Juga : Pemkab Malang Tak Terapkan WFA di Lebaran 2026

“Ada yang mengaitkan dengan tokoh lokal seperti Hamid Rusdi, tapi saya belum menemukan data sejarah yang memastikan itu,” ungkapnya.

Waktu boleh berjalan, namun bentuk monumen tetap bertahan. Hanya warna yang berganti, seolah mengikuti zaman tanpa menghapus jati diri. Dari putih, abu-abu, emas, hingga kini berbalut cokelat keemasan, Patung Buto tetap berdiri dengan cerita yang sama.

“Dulu sempat putih, abu-abu, kemudian emas, sekarang coklat keemasan. Kalau bentuknya tetap sama seperti saat ini,” katanya.

Sesekali, luka kecil sempat hadir, seperti saat bagian relief mengalami kerusakan akibat kecelakaan. Namun, sentuhan restorasi mengembalikan wujudnya tanpa mengubah makna yang dikandung.

“Pernah ada yang rompal karena tertabrak, tapi hanya direstorasi, bukan diubah total,” pungkasnya.

Di tengah kota yang terus bergerak maju, Patung Buto tetap berdiri dalam diam. Ia tidak bersuara, namun menyampaikan pesan yang kuat bahwa kemerdekaan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang tak pernah benar-benar selesai untuk dikenang.


Topik

Peristiwa sejarah stasiun kota baru malang patung buto cerita sejarah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Kalimantan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Nurlayla Ratri

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa