Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Sering Dikaitkan dengan Berbagai Mitos, Apakah 1 Suro Sama dengan 1 Muharam? Ini Penjelasan Lengkapnya

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

15 - Jun - 2026, 13:54

Placeholder
Ilustrasi 1 Muharam dan 1 Suro. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Menjelang Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, banyak masyarakat yang kembali mempertanyakan hubungan antara 1 Muharam dan 1 Suro. Tidak sedikit yang mengira keduanya merupakan peringatan yang berbeda karena sering dikaitkan dengan tradisi dan budaya yang tidak sama.

Lantas, apakah 1 Muharrlam sama dengan 1 Suro? Jawabannya adalah ya. Secara penanggalan, 1 Muharam dan 1 Suro merujuk pada hari yang sama, yakni hari pertama dalam kalender Hijriah yang juga menjadi awal tahun dalam kalender Jawa.

Baca Juga : Posyandu di Alfamart Singosari Diserbu, Ratusan Balita Ikut Pemantauan Tumbuh Kembang

Meski jatuh pada tanggal yang sama, keduanya memiliki makna dan tradisi yang berbeda sesuai dengan latar belakang budaya masyarakat yang memperingatinya.

Apakah 1 Muharam Sama dengan 1 Suro?

Pada dasarnya, tidak ada perbedaan antara 1 Muharam dan 1 Suro. Keduanya sama-sama menjadi penanda pergantian tahun.

Kalender Jawa yang digunakan hingga saat ini memiliki keterkaitan erat dengan kalender Hijriah. Salah satu kesamaannya terlihat pada sistem pergantian hari yang dimulai setelah Matahari terbenam atau saat waktu Magrib tiba.

Hal tersebut berbeda dengan kalender Masehi yang menetapkan pergantian tanggal pada pukul 00.00 waktu setempat. Karena itu, malam 1 Suro dan malam 1 Muharam berlangsung pada waktu yang sama.

Makna 1 Muharam bagi Umat Islam

Dikutip dari NU Online, Muharam merupakan bulan pertama dalam kalender Islam yang berdasarkan peredaran bulan atau kalender qamariyah. Muharam juga termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT atau dikenal dengan istilah asyhurul hurum.

Selain Muharam, tiga bulan suci lainnya adalah Zulqa'dah, Zulhijah, dan Rajab. Keutamaan empat bulan tersebut dijelaskan dalam Surah At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu." (QS At-Taubah: 36).

Sebagai salah satu bulan yang dimuliakan, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah selama Muharam. Beberapa amalan yang sering dilakukan antara lain memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, hingga menjalankan puasa sunah Tasu'a dan Asyura pada 9 dan 10 Muharam.

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kemuliaan bulan Muharam membuat pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Sebaliknya, perbuatan maksiat yang dilakukan pada bulan tersebut juga memiliki konsekuensi yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan biasa.

Baca Juga : Ketegasan Ali bin Abi Thalib Jaga Akhlak Umat, Usulkan Hukuman Berat bagi Pelaku Liwath pada Masa Abu Bakar

Makna 1 Suro bagi Masyarakat Jawa

Sementara itu, bagi masyarakat Jawa, 1 Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa yang sekaligus menandai pergantian tahun baru Jawa.

Istilah "Suro" berasal dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab. Penyebutan tersebut mulai dikenal sejak masa pemerintahan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam yang menggabungkan sistem penanggalan Jawa dengan kalender Hijriah.

Langkah tersebut dilakukan untuk menyelaraskan tradisi masyarakat Jawa dengan ajaran Islam yang berkembang pada masa itu. Selain itu, penyatuan kalender bertujuan mempererat hubungan antara kelompok masyarakat Jawa yang masih memegang tradisi kejawen dengan masyarakat Muslim.

Seiring berjalannya waktu, malam 1 Suro berkembang menjadi tradisi budaya yang sarat nilai spiritual. Di sejumlah daerah di Jawa, malam tersebut diperingati dengan tirakatan, doa bersama, ziarah makam leluhur, hingga kirab budaya.

Namun, malam 1 Suro juga kerap dikaitkan dengan berbagai mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa malam tersebut merupakan waktu yang sakral sehingga masyarakat dianjurkan menghindari aktivitas tertentu, seperti keluar rumah atau menggelar hajatan.

Meski demikian, kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi budaya yang berkembang secara turun-temurun dan tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Satu Muharam dan satu Suro pada dasarnya adalah hari yang sama karena sama-sama menandai awal tahun dalam kalender Hijriah dan kalender Jawa. Perbedaannya terletak pada cara masyarakat memaknai dan memperingatinya.

Bagi umat Islam, 1 Muharam menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah dan melakukan introspeksi diri. Sementara bagi masyarakat Jawa, 1 Suro juga memiliki nilai budaya dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.


Topik

Serba Serbi Satu Muharam satu Suro tradisi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Kalimantan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy