Payung Teduh Umat Katolik di Jatim, Gua Maria Puhsarang sebagai Lourdes-nya Indonesia
Reporter
M. Bahrul Marzuki
Editor
Yunan Helmy
25 - Jul - 2026, 09:53
JATIMTIMES - Arah jarum jam menunjuk pukul sepuluh lebih ketika rombongan dari Surabaya tiba di Gereja Puhsarang, Kabupaten Kediri. Tampak sejumlah petugas kebersihan sedang sibuk bekerja di sana.
Karena masih pagi dan hari Jumat tak begitu banyak pengunjung saat itu. Hanya belasan orang terlihat berlalu lalang, dengan usia yang rerata masih remaja.
Langkah kaki mereka terlihat tidak begitu cepat, tapi juga tidak lambat. Warga sekitar, pedagang maupun petugas kebersihan di sana juga begitu ramah dalam menyapa pengunjung asing.
Ada yang menawarkan dagangannya, ada juga yang sekadar menyapa dengan sapaan khas orang Jawa untuk mempersilakan orang yang lewat.
Tidak begitu sulit untuk menuju ke arah Gua Bunda Maria Lourdes. Cukup ikuti penunjuk arah saja. Tak sampai 10 menit pengunjung bisa langsung tiba.
Namun sepanjang jalan masuk ini, kita akan diperlihatkan beberapa bangunan ikonik. Pintu masuk terbuat dari batu alam yang dibentuk menyerupai sebuah gerbang kecil. Bangunan juga sangat khas seperti rumah joglo atau pendapa Jawa.
Sepanjang jalan masuk ini juga terlihat ada beberapa bangunan kuno serta makam-makam tua yang masih terawat.
Gereja Puhsarang ini dahulunya didirikan oleh Romo Jan Wolters pada 1936. Berada di wilayah Kediri, gereja masih masuk di bawah Keuskupan Surabaya yang membawahi semua Gereja Katolik maupun Paroki Katolik yang melintas luas di wilayah Jawa Timur bagian utara hingga Jawa Tengah bagian utara.
Luas wilayah di sana setelah terus dikembangkan saat ini mencapai puluhan hektare. Ikon utamanya adalah Patung Bunda Maria setinggi 4 meter.
Patung ini merupakan replika Bunda Maria Lourdes yang ada di Prancis. Dan baru didirikan di sini sejak tahun 1998.
Di halaman dalam ini terhampar luas halaman tak bersekat untuk jemaat berdoa dengan suasana rindang di antara pepohonan tua berukuran raksasa.
Termasuk ketika media ini berkunjung ke sana. Terlihat lima anak muda sedang berdoa dengan begitu khusyuknya di hadapan patung Bunda Maria.
"Di sini terbuka 24 jam untuk jemaat berdoa. Kami tak membatasi waktu. Malam pun bisa," terang Agustinus Prayugo, kepala keamanan yang ditemui JatimTIMES saat berbincang santai di lokasi.
Dalam setiap harinya, menurut dia, bisa ratusan orang berkunjung ke Gua Maria Puhsarang. Dan tak menentu dari umat Katolik maupun Kristen saja. Namun pada malam tertentu, bisa begitu ramai orang datang untuk berdoa. Misalnya pada bulan Maria ataupun bulan Rosario. Dan bisa mencapai ribuan peziarah.
"Kalau hari biasa yang ramai malam Jumat legi," lanjut Agustinus seraya menambahkan pada malam tersebut juga ada dari penganut Kejawen yang biasa ikut berdoa di altar Goa Bunda Maria.
Selain dapat melihat replika Bunda Maria, pengunjung juga dapat melihat diorama Perjalanan Salib Yesus di Bukit Galgota.
Antonius, petugas setempat, mengantarkan kami untuk mengelilingi taman ini. Di sana digambarkan dengan lengkap tentang 15 stasi perjalanan Yesus mulai dari dijatuhi hukuman mati hingga dibangkitkan kembali.
Pada stasi pertama terlihat patung Yesus dengan corak emas dengan keterangan mendapatkan vonis hukuman mati oleh Kerajaan Romawi. Terlihat ada lima patung prajurit Romawi berpakaian lengkap serta memanggul senjata menjaga berkeliling di antara Yesus.
Hingga pada stasi-stasi berikutnya, patung pun masih sama. Semua bercorak warna emas. Membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 15 menit untuk mengelilingi taman ini serta menikmati dioramanya.
Stasi ke 14 atau perhentian terahir adalah gambaran ketika Yesus dimakamkan di dalam gua. "Stasi 15 ketika dibangkitkan kembali," jelas Antonius yang sudah bekerja di Gja Bunda Maria Lourdes selama puluhan tahun ini.
Husni Thamrin, pengunjung asal Surabaya, mengaku memang begitu penasaran untuk datang dan berkunjung. "Ini pertama kalinya. Baru ada kesempatan sekarang berkunjung," kata dia.
Menurut dia, replika yang ada begitu bagus. Sehingga tidak terlihat jauh berbeda dengan yang ada di Lourdes, Prancis. "Termasuk guanya juga. Seperti asli," imbuh dia.
Terpisah, Uskup Keuskupan Surabaya MGR Agustinus Tri Budi Utomo menyampaikan terima kasih atas kunjungan setiap orang yang datang ke Gua Bunda Maria di Puhsarang. Pihaknya selalu terbuka kepada siapa pun yang hendak berziarah.
Romo Didik, sapaan akrabnya, juga menyampaikan peziarah yang datang di sana rata-rata memang untuk berdoa. "Untuk doa rosario, mengikuti misa, meminta bantu Ibu Maria terkait intensi atau harapan tertentu," ujarnya.
Romo Didik menambahkan, Gua Bunda Maria Puhsarang biasanya ramai dikunjungi pada momen tertentu. Dan bisa mencapai ribuan orang. "Yang saya tahu adalah setiap malam Ju'mat legi," imbuhnya.
