Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Hilal Sulit Terlihat di Situbondo, Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Jatuh 21 Maret 2026

Penulis : Wisnu Bangun Saputro - Editor : Nurlayla Ratri

19 - Mar - 2026, 19:13

Placeholder
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau akrab disapa Mas Rio saat menghadiri pemantauan hilal penetapan 1 Syawal 1447 H di Pelabuhan Kalbut, Kamis (19/3/2026). (Foto: Wisnu Bangun Saputro/ JATIMTIMES)

JATIMTIMES - Pemantauan hilal di wilayah Situbondo yang dilakukan pada Kamis (19/3/2026) di Pelabuhan Kalbut, menunjukkan hasil yang kurang maksimal. Tim pemantau menyatakan bahwa posisi hilal masih berada pada ketinggian yang relatif rendah, sehingga peluang untuk dapat terlihat sangat kecil.

Kegiatan pemantauan hilal tersebut dimulai sekitar pukul 17.35 WIB dihadiri langsung oleh Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau akrab disapa Mas Rio.

Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku

Berdasarkan hasil pengamatan, ketinggian hilal secara mar’i berada di kisaran 1 derajat 37 menit hingga mendekati 2 derajat. Kondisi ini dinilai belum cukup ideal untuk memastikan visibilitas hilal secara kasat mata.

Jika dibandingkan dengan wilayah lain seperti Aceh, perbedaan ketinggian hilal cukup signifikan. Di Aceh, posisi hilal dilaporkan hampir mencapai 3 derajat, yang secara teori memberikan peluang lebih besar untuk dapat terlihat dibandingkan dengan Situbondo.

Ketua Tim Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kabupaten Situbondo, Ustad Irfan Hilmi, mengungkapkan bahwa meskipun secara matematis ada kemungkinan hilal dapat terlihat, peluang tersebut sangat kecil karena faktor ketinggian.

“Pemantauan kita di Situbondo itu dimulai dari jam 17.35. Hilal sendiri ketinggian secara mar’i nya 1 derajat 37 menit sampai 2 derajat, dibanding Aceh yang hampir 3 derajat, jauh. Sehingga ada kemungkinan, tapi kecil,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa durasi pengamatan menjadi salah satu kendala utama. Waktu efektif untuk melakukan rukyatul hilal di Situbondo hanya sekitar 6 menit hingga 6,5 menit setelah matahari terbenam.

“Kita disuruh mundur. Yang kedua, kalau memaksakan juga kita tidak tega, karena ketinggian di kita hanya 1 derajat 37 menit. Waktu pengamatan kurang lebih 6 menit sekian, detik 6 menit setengah,” lanjutnya.

Meski demikian, kondisi ufuk di Situbondo pada saat pemantauan tergolong cukup baik. Langit terlihat relatif cerah tanpa gangguan awan yang signifikan, sehingga secara visual tidak ada hambatan berarti selain faktor posisi hilal itu sendiri.

Namun demikian, faktor utama tetap pada ketinggian hilal yang rendah. Dengan kondisi tersebut, tim BHR Situbondo menyimpulkan bahwa kemungkinan hilal terlihat sangat kecil.

Hasil pemantauan ini kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang, termasuk Kementerian Agama, sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Syawal 1447 Hijriah.

Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi

Berdasarkan hasil sidang isbat, pemerintah menyampaikan bahwa secara hisab, posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 H atau 19 Maret 2026 di sebagian wilayah Provinsi Aceh telah memenuhi parameter tinggi minimum 3 derajat sesuai kriteria MABIMS. Namun elongasi hilal belum mencapai batas minimum 6,4 derajat.

Dengan kondisi tersebut, secara perhitungan hisab, 1 Syawal 1447 Hijriah ditetapkan jatuh pada hari Sabtu Pahing, 21 Maret 2026. Penetapan ini mengacu pada metode yang digunakan di Indonesia, yakni kombinasi antara hisab dan rukyat.

Dalam penjelasannya, pemerintah menegaskan bahwa hisab bersifat informatif, sementara rukyat menjadi konfirmasi. Pada hari rukyat, tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada pada rentang 0 derajat 54 menit 27 detik hingga 3 derajat 7 menit 52 detik.

Sementara itu, nilai elongasi tercatat antara 4 derajat 32 menit 40 detik hingga 6 derajat 6 menit 11 detik. Data tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan posisi hilal di Indonesia belum memenuhi kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat MABIMS (3-6,4).

Dengan demikian, secara teoritis hilal tidak mungkin dapat dirukyat pada saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini sejalan dengan hasil pemantauan di Situbondo yang sejak awal memiliki peluang sangat kecil untuk melihat hilal.

Keputusan sidang isbat ini sekaligus menegaskan bahwa penetapan awal Syawal dilakukan dengan mempertimbangkan data ilmiah dan hasil rukyat di lapangan. Masyarakat diimbau untuk mengikuti ketetapan pemerintah dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.


Topik

Peristiwa Situbondo hilal



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Kalimantan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Wisnu Bangun Saputro

Editor

Nurlayla Ratri