Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Lebaran Tanpa Takbir Pengeras Suara di Jepang, Prof Sutoyo Ungkap Dinamika Komunitas Muslim di Chiba

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

20 - Mar - 2026, 10:30

Placeholder
Ilustrasi suasana Lebaran di Jepang (ist)

JATIMTIMES - Perkembangan komunitas Muslim di Jepang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan dinamika yang cukup menggembirakan. Meski hidup sebagai minoritas, umat Islam di Negeri Sakura mulai memiliki ruang yang lebih luas untuk menjalankan ibadah dan memperkenalkan budaya Islam kepada masyarakat setempat.

Hal itu disampaikan dosen asal Indonesia yang mengajar di Kanda University of International Studies, Prof Sutoyo. Ia menilai situasi umat Islam di Jepang saat ini berkembang ke arah yang positif, terutama dengan bertambahnya fasilitas ibadah dan meningkatnya ketertarikan masyarakat Jepang terhadap budaya Islam.

Baca Juga : THR Anak Cepat Habis? Ini Cara Mengatur Angpau Lebaran Anak Menurut Psikolog dan Perencana Keuangan

“Perkembangan terkini tentang umat Islam dan komunitas Islam di Jepang itu sangat menggembirakan. Akhir-akhir ini di Jepang sudah mulai berdiri banyak masjid,” ujar Sutoyo saat ditemui di kampus STIE Malangkucecwara belum lama ini.

Salah satu yang paling dekat dengan aktivitasnya adalah masjid di kawasan Nishichiba, Prefektur Chiba. Sejak 2022, masjid tersebut sudah digunakan oleh komunitas Muslim setempat untuk menjalankan ibadah secara rutin.

Masjid tersebut berada tidak jauh dari lingkungan kampus tempat Sutoyo mengajar, sehingga memudahkan mahasiswa dan masyarakat Muslim untuk menunaikan salat berjamaah. “Di Chiba, dekat kampus itu, sejak 2022 sudah ada masjid di Nishichiba. Jadi kami bisa menjalankan ibadah atau sembahyang di sana secara rutin,” jelasnya.

Masjid tersebut dikenal sebagai bagian dari pusat aktivitas komunitas Islam di wilayah Chiba yang terhubung dengan Chiba Islamic Cultural Center. Tempat ini tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga pusat interaksi sosial, pendidikan, dan pengenalan budaya Islam bagi masyarakat Jepang.

Di lingkungan kampus, kata Sutoyo, pendekatan terhadap Islam lebih banyak dilakukan melalui perspektif budaya, bukan pengajaran agama secara langsung. Mahasiswa diberi kesempatan mempelajari budaya Islam melalui mata kuliah pilihan yang cukup diminati.

“Khususnya di Kanda, kami tidak mengajarkan agama Islam. Tetapi kami memberikan mata kuliah pilihan budaya Islam kepada mahasiswa. Itu diminati oleh banyak mahasiswa,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari proses pembelajaran, mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut bahkan diajak untuk melihat langsung kehidupan komunitas Muslim. Para dosen kerap berkoordinasi dengan Sutoyo agar mahasiswa dapat berkunjung ke komunitas Indonesia di Jepang.

Setiap tahun, ia merekomendasikan mahasiswa untuk datang ke pusat kegiatan Islam di Chiba agar mereka dapat memahami kehidupan Muslim secara langsung.

“Salah satu tugas mahasiswa adalah berkoordinasi dengan saya agar mereka bisa berkunjung ke komunitas Indonesia. Biasanya saya merekomendasikan mereka untuk mengunjungi CIC, yaitu Chiba Islamic Cultural Center. Pusat budaya Islam di Chiba itu ada di Masjid Nishichiba,” jelasnya.

Meski demikian, kehidupan beragama di Jepang tetap menyesuaikan dengan budaya masyarakat setempat yang sangat menjunjung ketenangan lingkungan. Aktivitas keagamaan yang menimbulkan suara keras tidak diperbolehkan, termasuk pengeras suara untuk azan.

“Untuk takbir atau membaca Al-Qur’an dengan suara keras itu tidak bisa. Jepang memberi kesempatan berkembangnya budaya Islam, tetapi tidak boleh bersuara atau membuat bising,” kata Sutoyo.

Karena itu, kegiatan ibadah di masjid dilakukan dengan lebih tenang. Jika ada suara dari dalam masjid, biasanya dilakukan dengan volume sangat pelan dan ruangan ditutup rapat.

“Kalau misalnya azan atau bacaan ibadah, itu hanya di dalam. Biasanya jendelanya ditutup dengan kedap suara,” tambahnya.

Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku

Perbedaan suasana juga terasa ketika umat Islam merayakan hari besar seperti Idul Fitri maupun Idul Adha. Jika di Indonesia perayaan berlangsung meriah dengan gema takbir yang terdengar dari masjid hingga jalanan, di Jepang suasana Lebaran cenderung lebih sederhana dan tertib.

Tak ada pawai takbir keliling atau pengeras suara dari masjid seperti yang lazim ditemukan di Indonesia. Namun kebersamaan tetap terasa melalui kegiatan yang digelar komunitas Muslim.

Tradisi silaturahmi setelah salat Idul Fitri tetap dilakukan oleh masyarakat Indonesia di Jepang melalui kegiatan halal bihalal. Kegiatan ini biasanya diinisiasi oleh perwakilan pemerintah Indonesia dan komunitas Muslim setempat.

Menurut Sutoyo, acara tersebut kerap digelar oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, konsulat jenderal, serta berbagai komunitas masjid.

“Biasanya halal bihalal diinisiasi oleh KBRI, Konjen RI, dan juga masjid-masjid atau komunitas masjid. Baik dari kalangan NU maupun Muhammadiyah selalu menyelenggarakan itu,” tuturnya.

Di tengah keterbatasan yang ada, kehidupan Muslim di Jepang justru berkembang melalui pendekatan budaya dan dialog antarperadaban. Bagi banyak masyarakat Jepang, Islam menjadi salah satu topik yang menarik untuk dipelajari.

Namun ada satu hal yang sering menjadi pertanyaan mereka, yakni tentang praktik puasa dalam Islam.

Menurut Sutoyo, sebagian masyarakat Jepang masih memandang puasa sebagai hal yang cukup berat karena berbeda dengan pola hidup yang mereka pelajari sejak kecil.

“Banyak yang tertarik dengan Islam dan ingin belajar. Tapi yang menurut mereka paling sulit adalah puasa. Karena dalam pendidikan kesehatan di Jepang diajarkan makan pagi, makan siang, dan makan malam secara teratur,” ujarnya.

Meski demikian, rasa ingin tahu tersebut justru membuka ruang dialog yang lebih luas. Melalui interaksi akademik, kegiatan komunitas, hingga kunjungan ke pusat budaya Islam, masyarakat Jepang perlahan mulai memahami kehidupan umat Muslim.

Di tengah perbedaan budaya dan tradisi, perayaan Lebaran di Jepang mungkin terasa lebih sunyi dibandingkan Indonesia. Namun bagi komunitas Muslim yang tinggal di sana, kebersamaan dalam ruang sederhana justru menjadi makna tersendiri dari Idul Fitri di negeri yang jauh dari kampung halaman.


Topik

Peristiwa Lebaran di Jepang Lebaran Jepang Idul Fitri



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Kalimantan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa