Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Bukan Bentakan, 3 Kalimat Ini Justru Bisa Bantu Anak Tumbuh dengan Mental Kuat Menurut Pakar

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

22 - Aug - 2026, 06:32

Placeholder
Anak dan orang tuanya. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Cara orang tua berbicara kepada anak ternyata dapat berpengaruh terhadap cara mereka memahami emosi, menghadapi kegagalan, hingga menyelesaikan persoalan.

Membangun mental yang kuat pada anak tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Dalam situasi sehari-hari, kalimat sederhana yang disampaikan dengan tepat justru dapat membantu anak merasa aman sekaligus belajar menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan mandiri.

Baca Juga : El Nino Mengganas: Greenpeace Sebut OMC Bukan Solusi, Ini yang Harus Dibenahi

Sejumlah ahli yang dikutip Parade dan CNBC Make It merekomendasikan pendekatan komunikasi yang mendorong anak untuk menerima perasaan, belajar dari kesalahan, dan berani menghadapi tantangan.

Berikut tiga kalimat yang bisa diterapkan orang tua.

1. “Tidak apa-apa kalau kamu merasa seperti itu”

Ketika anak menangis atau menunjukkan emosi seperti marah, kecewa, maupun takut, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru menyuruh mereka berhenti merasakan hal tersebut.

Psikolog Dr Juli Fraga PsyD menjelaskan  bahwa emosi pada dasarnya bukan sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai baik atau buruk. Perasaan muncul secara alami dan merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Karena itu, kalimat seperti, “Tidak apa-apa kalau kamu merasa seperti itu,” dapat menjadi bentuk validasi bagi anak.

Anak akan belajar bahwa dirinya tidak perlu merasa malu hanya karena sedang sedih atau kecewa. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membantu mereka lebih terbuka dalam mengenali dan mengungkapkan perasaan.

2. “Menurutmu, apa yang bisa kita pelajari?”

Kesalahan dan kegagalan merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak. Mereka bisa saja salah menjawab soal, kalah dalam perlombaan, gagal menyelesaikan tugas, atau tidak berhasil melakukan sesuatu yang sedang dipelajari.

Pada kondisi seperti ini, orang tua bisa mengubah cara merespons. Alih-alih terus membahas kesalahannya, ajak anak melihat pengalaman tersebut sebagai bahan belajar.

Pertanyaan, “Menurutmu, apa yang bisa kita pelajari?” dapat membantu anak memusatkan perhatian pada proses perbaikan.

CNBC Make It juga membahas pentingnya pertanyaan yang mengarahkan anak pada pembelajaran dan perkembangan. Dengan pendekatan tersebut, anak dapat memahami bahwa kegagalan bukan akhir dari usaha.

Mereka justru memiliki kesempatan untuk mengetahui apa yang salah dan mencoba kembali dengan cara berbeda.

Baca Juga : Memaknai Amanah Demi Menjaga Marwah Organisasi, Seri Muktamar NU ke-35 Jombang

3. “Kita lakukan bersama dulu, setelah itu kamu coba sendiri”

Mengajarkan kemandirian kepada anak bukan berarti membiarkan mereka menyelesaikan semua persoalan tanpa bantuan.

Pada usia tertentu, anak masih membutuhkan contoh dan pendampingan dari orang tua. Setelah memahami caranya, mereka dapat diberi kesempatan untuk mencoba sendiri.

Kalimat, “Kita lakukan bersama dulu, setelah itu kamu coba sendiri,” bisa menjadi salah satu cara untuk memberikan dukungan tanpa membuat anak selalu bergantung.

Dr. Pal, sebagaimana dikutip Parade, menyebut pendekatan semacam ini dapat membantu menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mendorong anak agar semakin mandiri ketika menghadapi tantangan.

Komunikasi Orang Tua Berperan dalam Membentuk Anak

Mental kuat bukan berarti anak harus selalu terlihat berani, tidak boleh menangis, atau tidak pernah mengalami kegagalan.

Justru, anak perlu mengetahui bahwa merasa sedih adalah hal yang wajar, melakukan kesalahan merupakan bagian dari belajar, dan meminta bantuan bukan berarti dirinya lemah.

Orang tua dapat membangun kebiasaan tersebut melalui komunikasi sehari-hari. Validasi terhadap emosi, ajakan untuk belajar dari kegagalan, serta kesempatan untuk mencoba secara mandiri dapat menjadi bagian dari proses membentuk kepercayaan diri anak.

Dengan kata-kata yang tepat dan pendampingan yang konsisten, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih mampu memahami dirinya, menghadapi tantangan, dan bangkit ketika mengalami kegagalan.


Topik

Serba Serbi Mental anak mental kuat karakter tumbuh kembang anak



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Kalimantan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy